Minggu, 14 Desember 2008

The Struggle Over Acces antara Media dan Masyarakat


Dalam masyarakat demokratis, yang memberikan kebebasan bagi media mereka, dimana adanya pengharapan yang jelas, terkadang kembali mengalami tekanan yang amat sangat, dimana media akan membuat hubungan bagi komunikasi luas masyarakat, khususnya sebagai ”turunan” dari penguasa atau para kaum elit kepada masyarakat bawah. Akses publik mungkin dapat diraih dengan ketentuan yang legal, dengan kemampuan membeli/kepemilikan dalam pasar bebas, dengan media yang melayani sebagai saluran komunikasi publik yang terbuka. Ini adalah hal yang baik bagaimana “akses bagi masyarakat” dapat diraih, sejak kebebasan pers pada umumnya dijalankan termasuk hak untuk tidak menyiarkan dan akses untuk menahan berita. Pada prakteknya, nilai pada berita dan ketergantungan media pada sumber yang berpengaruh secara umum meyakinkan bahwa akses tersebut tersedia bagi tingkat sosial masyarakat teratas.

Continuum pada Otonomi Media
Situasi dapat dikatakan sebagai keadaan Continuum yaitu keadaan : secara ekstrim, media secara total “terpenetrasikan”, atau menerima kepentingan luar, secara nyata atau tidak, pada akhirnya, media secara total dengan bebas meniadakan atau menerima seperti yang mereka inginkan. Teori pluralistik mensyaratkan bahwa keragaman organisasi dan kemungkinan untuk mengakses dapat menjamin keterlibatan yang cukup bagi suara masyarakat dan pandangan kritis/alternatif.
“Akses bagi masyarakat” bermakna luas, lebih daripada memberikan sarana opini, informasi, dan sejenisnya. Ini juga berhubungan dengan sikap ketika peran media menggambarkan kenyataan dalam masyarakat. Pada akhirnya, pertanyaan akan akses kesosialan melibatkan sekumpulan konvensi yang amat rumit selama syarat tersebut mengacu pada kebebasan-kebebasan media dan klaim sosial dapat digunakan dan diperbaiki. Kebanyakan tergantung pada karakter standar akan bentuk dan gaya dan pada tingkah dimana mereka berniat untuk berperan dan dipahami oleh penonton/audien.
Pertanyaan ini diterangkan melalui kasus produksi televisi di Inggris oleh Elliot (1927), idenya dapat diaplikasikan kepada pers dan juga pada system media nasional lainnya. Tipologinya (Figur 12.2)menunjukkan varietas pada kompetensi organisasi media. Ini menggambarkan hubungan timbal balik antara tingkatan kebebasan pada penyedian akses bagi masyarakat dan tingkatan keekstensifan pada control dan akses dari media. Ada variasi tingkatan dari intervensi mediasi oleh media antara “suara masyarakat” atau kenyataan sosial pada satu pihak dan masyarakat sebagai audien di pihak lain. Formulasi ini menggarisbawahi tentang konflik dasar antara otonomi media dan kontrol sosial.

Konten Realitas Sosial sebagai Zona ”Contested”
“realitas” sosial yang difilter oleh media, dengan berita dan dokumen sebagai titik tengah dari skala. Ruang bagi para produser umtuk memilih dan membentuk kurang lebih berseberangan dengan ruang masyarakat untuk mengklaim secara langsung. Kebebasan editorial dalam keseimbangan ruang bagi audien juga untuk dapat melihat realita. Seperti materi keaktualitasan secara umum menjanjikan audien realitas yang valid pada sebuah kenyataan, tapi juga memelihara hak media untuk membentuk kriteria pada pemilihan dan tayangan. Keluar dari masalah ini, tipologi ini mengingatkan kita pada bahwa berita tersebut (yang mana pemilihan studi media telah dikonsentrasikan) adalah hanya salah satu dari beberapa jenis pesan dari kenyataan yang harus melewati ”pintu” media.
Dalam kenyataannya, tingkat intermediate dari continuum menjadi tempat dimana potensi konflik dapat muncul dan dimana media harus mempertahankan pilihan dan prioritas dalam hubungannya dengan masyarakat/publik. Wilayah ini mencakup anatar berita adan dokumenter meliputi docudrama, drama historik dan serial kenyataan yang diperankan oleh polisi, kedokteran, milter dan lainnya. Ini juga mencakup pada apa yang kini trend disbut infotainment (Brants, 1998). Semakin tayangan ini sensitif dan penuh kekuasaan pada domain ini, semakin harus berhati-hati dan berkewajiban pula media untuk menghindari area sensitif dalam menggunakan ironi, kiasan, khalayan dan muslihat untuk tanggung jawab langsung. Tidak hanya kekuasaan kepentingan pribadi untuk menciptakan pengaruh tertentu tetapi juga kemungkinan dampak yang tidak diinginkan dari realitas tersebut (panik, kejahatan, bunuh diri, dsb) . Sejak Elliot mengkonstruksikan tipologi ini, terjadi perkembangan yang berarti dalam penyiaran, khususnya pada banyaknya chanel yang tidak memvalidasi prinsip ini tapi malah memperkenalkan kemungkinan dan masalah baru. Inovasi penting adalah partisipasi audiens pada radio dan televisi (Munson, Livingstone, Lunt, Shen). Fenomena awalnya terjadi lewat radio call dalam acara, biasanya respon ahli, publik figur atau selebriti.
Setidaknya ada tiga kesimpulan yang dapat ditarik dari kotak tersebut: pertama, bentuk baru untuk akses untuk aspek realitas yang sebelumnya tersembunyi, contohnya tayangan pengakuan atau tayangan sensasional. Yang kedua: bahwa ada ”suara ketiga” yang bisa didengar selain pelaku media dan para ahli dalam masyarakat yaitu suara orang-orang biasa. Yang ketiga, terdapat perluasan dari tipe akses intermediate. Dalam teritori ini garis antara realitas dan fiksi terlihat sangat kabur dan arti lebih disaring dan dinegosiasikan.
Pengaruh Sumber Pada Berita
Media tergantung pada pasokan materi dari sumber, apakah ini berbentuk buku manuskrip untuk terbitkan, skrip untuk film, laporan atau kejadian untuk mengsisi kolom berita dan televisi. Hubungan dengan sumber berita sangat penting untuk media berita dan mereka seringkali melakukan proses yang aktif. Media selalu mencari konten yang cocok, dan konten (tidak selalu cocok) selalu mencari tempat pada berita. Pencari berita memiliki sumber-sumber tertentu sebagai sumber, dan juga terhubung pada figur terkemuka dari institusi sperti konferensi pers, agen penyiaran dll. Tchman, Fischman menjelaskan satu hal yang tidak pernah dibagi reporter berita pada kolega adalah sumber dan koneksinya.
Dalam prakteknya pemilahan laporan-laporan berita terkait narasumber biasanya tergantung pada otoritas yang berkuasan dan kebiasaan umum. Ini merupakan sesuatu yang hampir tak terelakkan pada bias media mainstream, tapi ini bisa berakhir menjadi bias ideologi, yang tersirat di balik topeng kebenaran. Dalam studi isi media di AS oleh Reese dkk, 1994, tiga narasumber utama yang dikutip adalah juru bicara lembaga, pakar dan wartawan lain. Temuan utama dari studi tersebut adalah adanya derajat hubungan yang sangat tinggi antara sumber-sumber terkait yang jumlahnya terbatas, sehingga membuat kita sulit menemukan pendapat yang beragam.
Pada saat negara dalam kondisi krisis atau konflik dimana kejadian-kejadian di luar negeri terlibat, tipikal media biasanya melukis dari sumber resmi yang dekat rumah, tentu saja dengan bias berita yang tak terhindarkan. Terdapat fakta-fakta mengenai hal ini dari perbandingan berita-berita saat ini mengenai perang di Kosovo, Afghanistan dan Iraq. Sebagai contoh Yang’s (2003) yang membandingkan liputan media China dan AS dalam serangan udara di Kosovo dengan angle dan area liputan yang berbeda. Sistem media dari keduanya melaporkan sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing (dominasi awal) dengan dukungan narasumber dari pihaknya.
Media sering menyalahkan bias, terutama pada isu-isu yang melibatkan secara tajam emosi dan opini. Pada kasus perang teluk I dan II di Iraq, media dari negara-negara Barat yang terlibat penyerangan umumnya memberitakan laporan yang tidak kritis dan objektif. Umumnya masing-masing kritik akan ditolak oleh medianya, tetapi pada Mei 2004, The New York Times mengambil langkah yang tidak biasa dalam memberitakan perang Irak. Tak lama berselang The Wahington Post membuat langkah serupa.

The Planning Of Supply
Sumber media bisa berupa konferensi pers, press release, PR, dll. Sebagai tambahan media secara terus menerus mengumpulkan materi lewat observasi langsung, pengumpulan informasi, dan laporan setiap hari dan event guided. Mereka juga secara rutin menggunakan pelayanan penyedia informasi baik nasional dan internasional, agensi film-berita, rencana pertukaran dan sejenisnya. Ada beberapa aspek yang harus dicatat: pertama: terdapat keadaan tingkat tinggi perencanaan dan perkiraan yang berjalan seiring dengan oprasi media dalam skala besar dan terus-menerus. Media harus memiliki supply isi yang menjamin kebutuhannya dengan segera baik itu berita, fiksi dan hiburan lainya. Ini merefleksikan perkembangan organisasi sekunder seperti agensi berita yang menyediakan konten secara regular. Ini juga menyiratkan ketidakkonsistenan pada gagasan media sebagai cermin yang netral dari pergerakan kultur dan berita dari masyarakat. Kedua, terdapat ketidakseimbangan antara pemasok informasi pada satu pihak dan media penerima informasi. Beberapa sumber biasanya lebih powerful dan lebih memiliki posisi tawar karena statusnya, dominansi pada pasar dan nilai pasar yang intrinsik. Gandy (1982) menunjuk pada ”information subsidies” yang diberikan selekti oleh kelompok kepentingan yang berkuasa dalam rangka mendahulukan kepentingannya. Organisasi media jauh dari kepatutan dalam tingkat mengalokasi akses pada sumber. Berdasarkan Gans (1979) sumber yang sukses untuk memperoleh akses pada elit media berita cenderung lebih berkuasa, lebih bersumber daya dan lebih teroganisir untuk memasok jurnalis dengan jenis berita yang mereka inginkan pada saat itu. Dengan demikian sumber otoritatif dan efisien dan seringkali menikmati ”habitual acces” pada news media (1974). Terdapat batas yang potensial pada independensi dan keberagaman sikap media oleh kesulitan yang mereka alami untuk berpaling dari materi sumber terebut. Ketiga, pertanyaan mengenai asimilasi muncul ketika hadirnya kepentingan timbal-bailk dalam media dan external communicators (sumber). Terdapat contoh yang jelas ketika pemimpin politik ingin mendapat publikasi yang luas, tetapi dengan kolusi yang tidak begitu kelihatan dalam peliputan berita rutin, repoter tergantung pada sumber cenderung memperoleh infomrasi dan kepentingan lewat cara berita itu disampaikan. Ini menggunakan sumber sebagai politisi, pejabat atau polisi. Walaupun tipe hubungan ini dapat saja dibenarkan lewat keberhasilan bertemunya kebutuhan publik lewat organisasi media, ini juga menimbulkan konflik dengan harapan independensi kritis dan norma profesi. (Murphy 1976, Chibnall 1977, Fishman 1980)

Humas dan Manajemen Berita
Molotch and Lester menujukkan bagaimana berita dapat dikontrol oleh posisi humas dan manajemen berita untuk mengatur publikasi. Seringkali terdapat kurang lebih hubungan kolusi antara politisi atau pejabat dan media dengan tujuan tertentu. Ini bisa dibuktikan dengan kampanye pemilu, yang menyewa mereka untuk mementaskan ”event semu" dari konferensi pres untuk meliput pernyataan kebijakan atau demonstrasi (Swanson dan Mancini 1996). Dalam beberapa ruang asimilasi antara news media dan sumber sangat komplit terlihat. Politik, pemerintah dan penegakan hukum adalah tiga contoh utamanya.
Asimilasi yang dimaksud dalam konteks ini merupakan aktifitas profesional sebagaimana layaknya agensi humas. Terdapat keterkaitan fakta-fakta untuk menyatakan bahwa pemasok informasi yang terorganisir dapat lebih efektif dan bahwav sebuah perjanjian yang baik mengenai apa yang dipasok oleh agensi humas ke media dapat digunakan. Studi Baerns (1987) menemukan bahwa laporan politik dalam One German Land sejak awal didominasi bahan dari konferensi pers dan rilis media. Penelitian Schultz (1998 : 56) juga menunjukkan gejala serupa dimana setengah dari isi berita media besar Australia ditulis berdasarkan press release. Ini menggambarkan bahwa para jurnalis menyerahkan sumber beritanya pada sumber resmi dan birokrasi (see Fishman, 1980).